ASUHAN KEPERAWATAN MASYARAKAT MARITIM
PADA PENGELOLAHAN KRIRIS CENTER
OLEH KELOMPOK 2:
Anang Sastiana
S.0017.P.003
Ayu Astuti
S.0017.P.010
Indayanti Hudin
S.0017.P.018
Noperialda Anggraeni .s
S.0017.P.028
Suramadhan
S.0017.P.037
Riski aswilan
S.0016.P.025
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN
PRODI SI KEPERAWATAN
KENDARI
2020
Daftar Isi
BAB I 5
PENDAHULUAN 5
A. Latar Belakang 5
B. Tujuan Penulisan 6
C. Manfaat Penulisan 6
BAB II 7
TINJAUAN TEORI 7
A. Definisi 7
B. Frekuensi kejadian 7
C. Kejadian krisis 9
D. Peran crisis center 10
E. Beberapah tahap yang di perlukan dalam penangulangan bencana 10
F. Aspek Kemaritiman 11
G. Masalah yang sering dihadapi 12
H. Disaster counseling 13
BAB III 15
HASIL PENGAJIAN KOMUNITAS 15
A. Gambar lokasi pengkajian 15
B. Data demografis 15
C. Data wawancara 16
D. Hasil Windshield survey 16
E. Tabulasi Frekuensi Kelompok dan Interpretasi 17
F. Analisis fish bone 20
BAB IV 21
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS 21
A. Analisis data 21
B. Rumusan Masalah 22
C. Planning Of Action 25
Table 4. Planning Of Action 26
D. Implementasi 26
E. Evaluasi keperawatan 31
BAB V 32
PENUTUP 32
A. Kesimpulan 32
B. Saran 32
Daftar Tabel
Nomor
Judul
Halaman
Tabel 1
Rincian jenis bencana di indonesia
8
Tabel 2
Analisis data
18
Tabel 3
Planning of action
18
Table 4
intervensi
20
Tabel 5
implementasi
21
Daftar Gambar
Nomor
Judul
Halaman
Gambar 1
Peta frekuensi kejadian krisis kesehatan 2016
7
Gambar 2
frekuensi kejadian krisis kesehatan 2016
8
Gambar 3
pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan usia.
13
Gambar 4
Pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan jenis kelamin
15
Gambar 5
Pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan pendidikan
15
Gambar 7
pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan usia.
16
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Krisis pada dasarnya adalah sebuah situasi yang tidak terduga, artinya organisasi umumnya tidak dapat menduga bahwa akan muncul krisis yang dapat mengancam keberada-anya. Sebagai ancaman ia harus ditangani secara cepat agar organisasi dapat berjalan normal kembali setelah itu. Untuk itu Holsti melihat krisis sebagai “situations characterized by surprise, high threat to important values, and a short decision time”. Krisis membawa keterkejutan dan sekaligus mengancam nilai-nilai penting organisasi serta hanya ada waktu yang singkat untuk mengambil keputusan(1)
Krisis diasosiasikan dengan kerusakan yang berskala luas terhadap kehidupan manusia, lingkungan alam dan institusi social dan politik. Krisis juga merupakan “a disruption that physically affects a system as a whole and threaten its basic assumptions, its subjective sense of self, its exixtential core”. Krisis biasanya memiliki tiga dampak, yaitu pertama ancaman terhadap legitimasi organisasi, adanya perlawanan terhadap misi organisasi, dan ketiga, terganggunya cara orang melihat dan menilai organisasi(1)
Sedangkan membicarakan aspek penanggulangan bencana dari perspektif ilmu sosial akan lebih mengarah pada pola behavioralisme seseorang dalam mempersepsikan suatu bencana.
Cara pandang ini setidaknya menjadi penting untuk melihat dampak bencana terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Penekanan terhadap aspek sosial terhadap skema penanggulangan bencana sendiri dikarenakan adanya perubahan paradigma ilmu bencana. Bencana kini bukan lagi dianggap sebagai fenomena yang sporadis, namun sebisa mungkin bencana tersebut dikelola dan direduksi. Oleh karena itulah, bencana bukan lagi dianggap sebagai hazard yang menempatkan bencana sebagai sesuatu yang absurd untuk dikelola. Akan tetapi, bagaimana kemudian kita menempatkan unsur keselamatan (safety) dalam bencana tersebut(1).
Munculnya gagasan “kerentanan” (vulnerability) adalah untuk mengakomodasi pranata maupun unit sosial sebagai bagian dari kajian bencana. Khususnya terhadap eksistensi peradaban dan kehidupan manusia yang berada di dunia. Bencana berikut faktor pemicu maupun implikasinya terhadap kehidupan manusia perlu untuk direduksi maupun terdeteksi sedini mungkin, sehingga dari situlah kemudian menciptakan skema manajemen bencana . Adapun penggunaan istilah perspektif “cultural theory” yang digunakan dalam tulisan ini adalah suatu cara bagaimana dan mengapa individu memberikan penilaian terhadap bencana begitu juga potensi kerusakan yang ditimbulkannya. Hal ini terkait dengan upaya pemenuhan hak keadilan sosial kepada masyarakat untuk mengetahui informasi kebencanaan secara akurat dan mendetail.
Pemenuhan hak tersebut menjadi penting utamanya dalam mengkonstruksikan bencana tersebut karena isu penanggulangan bencana sendiri tidak terlepas dari tiga premis utama yakni kekuasaan (power), keadilan (justice), dan legitimasi kekuasaan (legitimacy). Relasi kekuasaan terhadap penanggulangan bencana adalah melihat bagaimana respons negara dalam menanggulangi dampak destruktif bencana baik dari segi sosial maupun ekologis dan konstruksi informasi publik yang dihadirkan negara terhadap bencana dan dampaknya kepada masyarakat. Isu keadilan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sosial bagi masyarakat dan legitimasi sendiri terkait dengan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dalam menanggulangi bencana. Ketiga hal tersebut dikristalkan dalam bentuk pemahaman risk regulatory regime yakni karakteristik rezim suatu negara dalam menanggulangi bencana.
Tujuan Penulisan
Mahasiswa mengetahui proses pengelolaan krisis center pada wilayah maritim
Mahasiswa mengetahui cara pengelolaan krisis center pada wilayah maritim
Manfaat Penulisan
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reverensi untuk materi pengelolaan krisis center pada wilayah maritim
Bagi masyarakat, makalah ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, mengenai pengelolaan krisis center.
Bagi Ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update referensi mengenai pengelolaan krisis center pada wilayah maritim
BAB II
TINJAUAN TEORI
Definisi
Krisis kesehatan adalah peristiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam kesehatan individu atau masyarakat yang disebabkan oleh benca dan berpotensi bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh factor alam dan/atau factor non alam maupun factor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan tampak sikologis(1).
Bencana tentu menimbulkan krisis dalam aspek komunikasi hingga kebutuhan. Lembagalembaga bencana yang tersedia di setiap daerah berfungsi mengulurkan tangan apabila krisis itu terjadi. Baik memberikan informasi sebelum bencana melanda sebagai bentuk kesiapsiagaan, memberikan pertolongan tertama pada saat bencana, hingga memenuhi kebutuhan masyarakat korban bencana pasca bencana alam.
Bencana alam adalah bencana yang di akibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung Meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit(2,3).
Frekuensi kejadian
Selama tahun 2016, terdapat 661 kejadian krisis kesehatan.Jumlah total korban krisis kesehatan sebanyak 351.957 jiwa dengan rincian jumlah seluruh korban meninggalsebanyak 817 jiwa, luka berat/rawat inap sebanyak 4.045, luka ringan/rawat jalan sebanyak 60.718 dan pengungsi sebanyak 286.377. Berdasarkan data Sistem Informasi Pusat Krisis Kesehatan (SIPKK), frekuensi kejadian krisis kesehatan pada tahun 2016 sebanyak 661 kejadian yang tersebbardi 34 provinsi.
Gambar 1. Peta Frekuensi Kejadian Krisis Kesehatan Tahun 2016
Frekuensi kejadian krisis kesehatan tertinggi (>30 kali) berada di 5 provinsi, yaitu Jawa Barat (130 kejadian), Jawa Timur (95 kejadian), Jawa Tengah (85 kejadian), DKI Jakarta (44 kejadian) dan Sumatera Barat (40 kejadian). Berdasarkan Indeks Risiko Bencana (IRB) Provinsi tahun 2013, kelima provinsi tersebut memiliki IRB dengan kategori tertinggi-sedang, dengan masing-masing skor yaitu Jawa Barat:166 (Tinggi), Jawa Timur:171 (Tinggi), Jawa Tengah: 158 (Tinggi), DKI Jakarta: 103 (Sedang) dan Sumatera Barat: 153 (Tinggi).
Frekuensi Kejadian krisis kesehatan tahun 2016 masih di dominasi oleh bencana alam sebanyak 400 kejadian (60%). Sedangkan frekuensi bencana non alam sebanyak 237 Kejadian (36%) dan benca social sebanyak (4%).
Gambar 2. Frekuensi Kejadian krisis kesehatan tahun 2016
BencanaAlam
Frekuensi
Bencana Non Alam
Frekuensi
Bencana Sosial
Frekuensi
1)
Banjir
145
1)
KLB Keracunan
98
1)
Konflik Sosial
16
2)
Tanah Longsor
119
2)
Kecelakaan Transportasi
62
2)
Aksi terror dan sabotase
8
3)
Angin Putting Beliung
60
3)
Kebakaran
48
4)
Banjir Bandang
38
4)
Gagal Teknologi
21
5)
Banjir dan tanah longsor
14
5)
Kecelakaan Industri
4
6)
Gempa Bumi
12
6)
KLB Penyakit
2
7)
Gelombang Pasang/Badai
10
7)
Kebakaran Hutan dan Lahan
2
8)
Letusan Gunung Api
2
Jumlah
400
Jumlah
237
Jumlah
24
Tabel 1. Rincian Jenis Bencana di Indonesia Tahun 2016
Kejadian krisis
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya krisis pada seseorang. Krisis dapat terjadi pada individu apabila mengalami beberapa hal berikut ini:, bencana alam, seperti gempa, badai, banjir, gunung meletus, dan badai tsunami, Kecelakaan, seperti kebakaran, tabrakan, tenggelam dalam air, jatuh dari tempat tinggi, tertusuk pisau, dan tertembak, Penyakit yang menimpa manusia seperti stroke, asma, kanker, operasi, sakit kaki, dan tidak berfungsinya bahagian tubuh, Emosi yang terganggu, Hubungan sosial seperti hubungan yang tidak berfungsi, putus hubungan, perceraian, perselingkuhan, pemutusan hubungan kerja. Individu yang mengalami krisis atau bencana alam memiliki respon yang berbeda-beda walaupun mengalami suatu kejadian atau peristiwa yang sama.
Krisis memiliki tingkat bahaya dan nilai antara lain yaitu: Menaikkan tingkat stres, orang yang mengalami krisis seringkali merasa tertekan perasaannya dengan peristiwa yang terjadi, Menghendaki tanggapan segera mungkin untuk meminimalkannya, keadaan krisis memerlukan penanganan yang cepat dan tepat sehingga dapat dihilangkan dan dikurangi tekanannya, Merusak emosi dan aspek psikologis lainnya, seperti: mengganggu perasaan, persepsi, motivasi, sikap dan cara berpikir. Selain itu, American Counseling Association memaparkan respon atau sikap negatif yang sering ditampilkan oleh individu yang mengalami krisis atau bencana alam, yaitu kesulitan tidur, merasa sedih dan tertekan, merasa marah, merasa tidak berdaya, sakit kepala, pusing, mati rasa, merasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri, ingin menyakiti orang lain, dan menyakiti diri sendiri.
Peran crisis center
Peran crisis center bagi korban bencana alam, orang yang mengalami peristiwa traumatis mengalami berbagai gejolak jiwa. Dalam situasi seperti itu mereka mengharapkan pelayanan kesehatan maupun dukungan emosional {emotional support) dari orang lain, keluarga, kawan-kawan dekat, dan relawan (orang orang yang memiliki kerelaan membantu mereka) akan menghadirkan dukungan emosional. Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat telah mendirikan berbagai crisis center.
Kehadiran crisis center akan memiliki manfaatyang signifikan bagi korban bencana. Pusat krisis ini dimaksudkan untuk memberikan pertolongan fisik, psikologi, dan spiritual, yang bersifat segera bagi korban gempa,karenanya, perlu melibatkan dokter dan perawat, psikolog dan psikiater, serta ustadz dan kyai, atau pastor dan pendeta. Diharapkan pusat ini juga memberi psikoterapi bagi mereka yang mengalami tekanan berat
Beberapah tahap yang di perlukan dalam penangulangan bencana
Tahap pencegahan
pada tahap ini berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana alam. Beberapa kegiatan pada tahap ini adalah: penyadaran masyarakat pentingnya reboisasi dan pentingnya pemahaman bahaya penebangan hutan secara liar; juga soal pemahaman tekstur tanah, khususnya keterkaitan dengan jenis tanaman.
Tahap tanggap darurat
pada tahap tanggap darurat, hal paling pokok yang sebaiknya dilakukan adalah penyelamatan korban bencana alam. Inilah sasaran utama dari tahapan tanggap darurat. Selain itu, tahaptanggap darurat bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana alam langsung untuk segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal. Para korban juga perlu dibawa ke tempat sementara yang dianggap aman dan ditampung di tempat penampungan sementara yang layak. Pada tahap ini dilakukan pula pengaturan dan pembagian logistik atau bahan makanan yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban bencana alam.
Secara operasional, pada tahap tanggap darurat ini meliputi kegiatan: -penanganan korban bencana alam termasuk mengubur korban meninggal dan menangani korban yang luka-luka. -penanganan pengungsi, -pemberian bantuan darurat, -pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih, -penyiapan penampungan sementara, -pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum sementara serta memperbaiki sarana dan prasarana dasar agar mampu memberikan pelayanan yang memadai untuk para korban;
Tahap Rehabilitasi
dalam tahap rehabilitasi, upaya yang dilakukan adalah perbaikan fisik dan non fisik serta pemberdayaan dan pengembalian harkat korban. Tahap ini bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap tanggap darurat, seperti rehabilitasi bangunan ibadah, bangunan sekolah, infrastruktur sosial dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat diperlukan. Sasaran utama dari tahap rehabilitasi adalah untuk memperbaiki pelayanan masyarakat atau publik sampai pada tingkat yang memadai. Dalam tahap rehabilitasi ini juga diupayakan Penerapan Manajemen Krisis dalam Pengelolaan Bencana Longsor penyelesaian berbagai permasalahan yang terkait dengan aspek kejiwaan/psikologis melalui penanganan trauma korban bencana alam.
Tahap Rekonstruksi
upaya yang dilakukan pada tahap rekonstruksi adalah pembangunan kembali sarana, prasarana serta fasilitas umum yang rusak dengan tujuan agar kehidupan masyarakat kembali berjalan normal. Biasanya melibatkan semua masyarakat, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha. Sasaran utama dari tahap ini adalah terbangunnya kembali masyarakat dan kawasan. Pendekatan pada tahap ini sedapat mungkin juga melibatkan masyarakat dalam setiap proses.
Aspek Kemaritiman
Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah dalam hal gelar Hari Nusantara membuat paket wisata kemaritiman terpadu dengan tujuan pengembangan kepariwisataan nasional yang menitikberatkan pada destinasi laut, pantai, dan pulau kecil. Dengan panjang pantai 99.093 kilometer (data mutakhir Badan Informasi Geospasial), dan dengan potensi sumber daya kelautan sebesar 3000 triliun rupiah per tahun yang belum tergarap secara maksimal, NKRI memang berpeluang menjadi poros maritim dunia. Oleh karena itu, paket tersebut tentu membutuhkan kapal pesiar untuk berkeliling Nusantara yang ditunjang oleh perahu-perahu tradisional.
NKRI sebagai negara maritim adalah negara yang mampu memanfaatkan dan menjaga lautnya, karena memiliki sumber kehidupan, perdagangan, dan kekuatan laut. Dengan demikian, jika kemudian masih ada pernyataan di luar sana yang meragukan kemampuan NKRI sebagai poros maritim dunia, seraya menggarisbawahi NKRI belum memiliki strategi maritim dalam bentuk ocean policy, pernyataan ini secara perlokutif mengindikasikan bahwa penuturnya, selain belum mampu memahami makna kontrak politik Hobes, juga mempertegas masih kehilangan budaya bahari. Sebagai fokus NKRI abad ke-21, visi Indonesia sebagai poros maritim dunia telah diejawantahkan melalui lima pilar pendukungnya, sebagaimana telah dikaji di atas.
Masalah yang sering dihadapi
Pada umumnya masyarakat dan pemerintah dalam menyikapi korban bencana alam lebih menitik beratkan pada aspek fisik, yaitu: bantuan pengobatan, sandang, pangan dan papan. Namun pada aspek psikis seperti, kejiwaan, metal, psikologis yang mengarah pada gangguan stres pasca bencana alam yang menyebabkan trauma mendalam kurang mendapat perhatian. Stres karena trauma akibat bencana alam yang dialami oleh korban dapat menyebabkan gangguan jiwa seperti: kecemasan, depresi, psikosis, bahkan korban dapat melakukan tindakan bunuh diri(3).
Para korban bencana yang berada di pengungsian terkadang mengalami suasana yang mencekam dan rasa cemas yang tinggi dan berada pada kondisi krisis. Kondisi tersebut membuat mereka mengalami gangguan emosional, kognitif dan tingkah laku yang dapat merugikan dirinya sendiri, bahkan sangat sensitif dari segi pikiran dan perasaan, kehilangan semangat, keceriaan, kepercayaan terhadap lingkungan sosial, bahkan mejadi individu yang tidak beriman kepada Allah.Korban bencana seringkali secara psikologis terjangkit gangguan stres pasca trauma/bencana yang pada umumnya dalam dunia kesehatan disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)(3).
Bencana alam merupakan ujian/cobaan yang diberikan kepada seseorang agar mereka dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Tetapi, tidak semua korban bencana alam yang dapat menyikapi dengan bijaksana bahkan sebagian besar mengalami gangguan psikis (stres atau trauma) yang menjadikannya sebagai individu yang tidak beriman, menyalahkan Allah atas terjadinya bencana tersebut. Oleh karena itu, korban bencana alam memerlukan suatu bantuan khusus dari profesi yang khusus pula (individu/sekelompok individu) yaitu salah satunya bantuan melalui pelayanan konseling untuk menangani aspek psikis korban bencana alam sehingga para korban, baik orang dewasa maupun anak-anak tidak mengalami trauma, rasa sakit karena tekanan yang dirasakan akibat kehilangan anggota keluarga (orangtua, anak, dan saudara) bahkan harta benda, dapat berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan sehari-harinya dapat efektif kembali(3)
Disaster counseling
Counseling (konseling) adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman, terhadap individu-individu yang membutuhkanya agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, mampu mengatasi masalahnya dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.
Disaster counseling (konseling bencana) adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk membantu korban bencana alam untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan psikologis yang dialami akibat bencana dan mengembangkan potensi yang dimiliki agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan setelah bencana. Menurut Ikatan Konselor Indonesia (IKI), pelayanan konseling untuk korban yang selamat dari bencana alam bertujuan untuk: Memberikan pelayanan konseling kepada para korban selamat yang mengalami krisis, trauma, atau gangguan psikologis akut akibat bencana alam, Membantu pemulihan kondisi mental psikologis akut para korba bencana alam sehingga dapat beraktivitas kembali secara normal (IKI, 2017). Konselor memiliki peran penting dalam pemulihan kondisi psikologis, krisis, trauma yang dialami oleh para korban yang selamat dari bencana alam. Adapun peran konselor terhadap korban yang selamat dari bencana alam yaitu dengan memberikan pelayanan koseling bencana, konseling krisis atau konseling trauma (trauma healing) baik melalui format individu, kelompok, klasikal, maupun lapangan. Beberapa materi yang dapat diberikan kepada korban yang selamat dari bencana alam yaitu pengembangan hubungan sosio-emosional, Play therapy, Self report and sharing, informasi tentang gempa, penenangan (relaksasi dan disensitisasi), Spritual Emotional Freedom technique (SEFT), dan pendalaman melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling . Ada banyak pendekatan dan teknik yang dapat digunakan untuk membantu korban bencana alam yang mengalami trauma. Oleh karena itu, konselor dituntut untuk cermat dalam memilih dan menggunakan pendekatan, teknik, dan format layanan yang sesuai dengan kondisi tauma yang dialami oleh korban bencana alam.
BAB III
HASIL PENGAJIAN KOMUNITAS
Gambar lokasi pengkajian
Gambar 3. lokasi pengkajian
Kelurahan Meluhu merupakan kelurahan yang terletak di Kecamatan Meluhu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Luas kecamatan meluhu adalah 20703 Ha, dan kelurahan meluhu seluas 2880 Ha dengan setiap arahnya memiliki batasan. Di sebelah utara berbatasan dengan desa kabupaten konawe utara, sebelah timur berbatasan dengan desa larowiu, sebelah selatan berbatasan dengan desa lahambuti, sebelah barat berbatasan dengan desa lamelai. Lokasi pengakjian yang digunakan adalah RW 01, Rt 01.
Data demografis
Berdasarkan data administrasi pemerintah kelurahan meluhu tahun 2019 , keadaan demografi kelurahan meluhu dengan kondisi geografis kelurahan jarak dari pemerintahan kecamatan > 8 Km dengan luas tanah kelurahan yang terbagi dari 8 RT dan 10 dusun, yaitu 5,01 Km. RT 01 merupakan suatu wilayah di kelurahan meluhu, kecamatan meluhu yang letaknya di wilayah kabupaten konawe.
Batas wilayah RT 01:
Utara : konawe utara
Barat : Desa Lamelai
Timur : Rw 02
Selatan : Desa lahambuti
Kondisi geografis RT 01 Merupakan wilayah dataran rendah dengan curah hujan RT 01 tergolong sedang dan luas wilayah ± 2,7 Ha. Selanjutnya data administrasi untuk kelurahan meluhu khususnya RT 01 dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 27, dan jumlah kepemilikan rumah 27.
Data wawancara
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada masyarakat kelurahan meluhu khususnya RT 01 menggunakan metode kuisioner berdasarkan prevalensinya data yang didapatkan oleh peneliti setelah bencana banjir, sebanyak 2 rumah rusakan parah, 13 kerusakan ringan dan 7 lainnya dalam keadaan baik. Tidak ada korban nyawa dalam bencana.
Masyarakat sebagian mengngsikan barang-barang yang masih sempat diselamatkan keposko-posko darurat karena merasa hawatir benca banjir terjadi secara tiba-tiba. Ada juga beberapa penduduk yang meninggalkan pemukiman kerumah kerabat terdekat yang aman dari bencana banji untuk sementara waktu karena merasa hawatir dengan bencana alam yang terjadi
Dari 27 kepala keluarga, sebanyak 7 keluarga memilih meninggalkan lokasi bencana denga alasan hawatir akan bencana yang terjadi lagi secara tiba-tiba.
Hasil Windshield survey
Perumahan dan lingkungan (daerah)
Bangunan
Mayoritas bangunan rumah yang hancur adalah rumah non permanen dan rumah semi permanen. Sedangkan 7 rumah yang selamat adalah bangunan permanen.
Sumber air
Masyarakat menggunakan air hujan yang ditampung untuk keperluan memasak, mencuci, makanan, perabot rumah tangga dan air minum. Sedangkan untuk mandi masyarakat hanya kesungai yang airnya mulai dangkal dan dirasa aman dari risiko tenggelam. Sumber air yang sebelumnya berasal dari air gunung langsung mengalami putus aliran akibat kerusakan sumbatan rumput akibat hujan deras selama musibah banjir.
Pembuangan limbah
Tempat BAB/BAK, sebanyak 15 rumah melakukannya disungai dan 10 rumah menggunakan jamban. Sedangkan untuk pembungan sampah rumah tangga dan lain-lain, masyarakat yang membuang ke sungai sebanyak 10 rumah, 8 rumah membuang kebelakang rumah dan galian yang dibuat sendiri sebanyak 7 rumah.
Kondisi kesehatan
Setelah mengalami bencana banjir, masalah kesehatan yang dihadapi berupa gangguan psikologis seperti stress trauma, berduka serta gangguan kecemasan.
Tabulasi Frekuensi Kelompok dan Interpretasi
Data inti (Penduduk)
Data demografi
Pengkajian masyarakt desa motui berdasarkan usia
Gambar 4 : pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan usia.
Dari hasil pengkajian yang dilaksanakan didapatkan data, pendudukusia 0-12 bulan 3 orang (6%), 1-4 tahun 10 orang (18%), 5-16 tahun 8 orang (14%), 17-25 tahun 9 orang (16%), 26-35 tahun 8 orang (14%), 36-45tahun 10 orang (18%), 46-50 tahun 8 orang (14%).
Pengkajian masyarakat desa motui berdasarkan jenis kelamin.
Gambar 5: Pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan jenis kelamin.
Dari hasil pengkajian yang dilaksanakan didapatkan data, penduduk dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 24 (43%) dan perempuan berjumlah 32 (57%).
Pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan pendidikan
Gambar 6: Pengkajian masyarakat kelurahan meluhu berdasarkan pendidikan
Dari hasil pengkajian yang dilaksanakan didapatkan data penduduk dengan tingkat pendidikan, tidak sekolah 15 orang (27%), belum sekolah 5 orang (9%) , TK 7 orang (12%), SD 4 orang (7%), SMP, 6 orang (11%), SMA 10 orang (18%) diploma/sastra 9 orang (16%).
Analisis fish bone
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Analisis data
Analisis Data
Domain/
kelas
Etiologi
Masalah
DS : Menurut pak RT yang membantu peneliti dalam mengumpulkan data dimasyarakat RT 01 Didapatkan data bahwa masyarakat banyak yang mengalami kerugian akibat banjir, serta banyaak masyarakat merasa sedih dengan bencaana banjir ini
DO:
data yang didapatkan oleh peneliti setelah bencana banjir, sebanyak 2 rumah rusakan parah, 13 kerusakan ringan dan 7 lainnya dalam keadaan baik.
Kategor: Psikologis
SubKategori: integritas ego
Kode:
D.0081
kehilangan
Berduka
DS: Setelah mengalami bencana banjir, masalah kesehatan yang dihadapi berupa gangguan psikologis seperti stress trauma, berduka serta gangguan kecemasan
DO: Dari 27 kepala keluarga, sebanyak 7 keluarga memilih meninggalkan lokasi bencana denga alasan hawatir akan bencana yang terjadi lagi secara tiba-tiba.
Kategor: Psikologis
SubKategori: integritas ego
Kode:
D.0080
Krisis situasional
Ansietas
Tabel 2 : analisis data
Rumusan Masalah
Data yang terkumpul dan dianalisis, kemudian didapatkan diagnosa keperawatan sebagai berikut :
D.0081 Berduka
D.0080 Ansietas
Data
Diagnosis Keperawatan
SLKI
SIKI
Kode
Diagnosis
Kode
Hasil
Skala
Kode
Intervensi
Aktivitas
DS : Menurut pak RT yang membantu peneliti dalam mengumpulkan data dimasyarakat RT 01 Didapatkan data bahwa masyarakat banyak yang mengalami kerugian akibat banjir, serta banyaak masyarakat merasa sedih dengan bencaana banjir ini.
DO :
data yang didapatkan oleh peneliti setelah bencana banjir, sebanyak 2 rumah rusakan parah, 13 kerusakan ringan dan 7 lainnya dalam keadaan baik.
D.0081
Berduka
Prevensi Primer
Prevensi Primer
L.09094
Verbalisasi menerima kehilangan
Meningkat
Cukup meningkat
Sedang
Cukup menurun
menurun
I.09274
Dukungan proses berduka
identifikasi proses berduka yang dialami
fasilitasi mengekspresikan perasaan dengan cara yang nyaman
anjurkn mengespresikan perasaan dengan benar
ajarkan proses berduka secara bertahap
Prevensi Sekunder
Prevensi Sekunder
L.13113
Kemampuan meminta dukungan pada orang lain
menurun
cukup menurun
sedang
cukup meningkat
meningkat
I.09258
Dukungan kelompok
identifikasi kelompok memiliki masalah yang sama
bentuk kelompok dengan pengalaman dan masalah yang sama.
Anjurkan kelompok untuk menuntaskan ketidak puasan , keluhan, kirtik dalam kelompok dengan cara santun
Prevensi Tertier
Prevensi Tertier
L.09068
Keterlibatan dalam aktivitas perawatan
menurun
cukup menurun
sedang
cukup meningkat
meningkat
I.10334
konseling
tetapkan tujuan dan lama hubungan konseling
berikan penguatan dalam keterampilan baru
anjurkan untuk menunda mengambil keputusan saat strees
Data
Diagnosis Keperawatan
SLKI
SIKI
Kode
Diagnosis
Kode
Hasil
Skala
Kode
Intervensi
Aktivitas
DS: Setelah mengalami bencana banjir, masalah kesehatan yang dihadapi berupa gangguan psikologis seperti stress trauma, berduka serta gangguan kecemasan
DO: Dari 27 kepala keluarga, sebanyak 7 keluarga memilih meninggalkan lokasi bencana denga alasan hawatir akan bencana yang terjadi lagi secara tiba-tiba.
D.0080
Ansietas
Prevensi Primer
Prevensi Primer
L.09093
Verbalisasi kuatir akibat kondisi yang dihadapi
Meningkat
Cukup meningkat
Sedang
Cukup menurun
menurun
I.09326
Terapi relaksasi
identifikasi ketidakmampuan berkonsetrasi
berikan informasi tertulis tentang prosedur dan kesiapan prosedur teknok relaksasi
anjurkan mengambil posisi nyaman
Prevensi Sekunder
Prevensi Sekunder
L.09076
Kontrol diri
menurun
cukup menurun
sedang
cukup meningkat
meningkat
I.09314
Reduksi ansietas
identifikasi kemampuan mengambil keputusan
gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
anjurkan keluarga untuk tetap bersama klien
latih teknik relaksasi
Prevensi Tertier
Prevensi Tertier
L.13113
Dukungan sosial
menurun
cukup menurun
sedang
cukup meningkat
meningkat
I.10334
konseling
identifikasi kemampuan dan beri penguatan
tetapkan tujuan dan lama konseling
anjurkan mengekspresi perasaan
Tabel 3. Intervensi keperawatan
Planning Of Action
No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Kegiatan
Sasaran
Waktu Pelaksanaan
Tempat
Dana
PJ
1
berduka
Mengurangi strees
Lomba makan kerupuk
Anak-anak dari Rt 01 kelurahan meluhu
Jum’at, 10 juli 2020
Balai kelurahan
Kepala lurah dan Mahasiswa
Table 4. Planning Of Action
Implementasi
No
DX
Tanggal dan Jam
Implementasi
Respon Komunitas
Evaluasi Formatif
Faktor Pendukung
Faktor penghambat
Nama
TTD
1
D.0081
10 juli 2020
Jam 08 ; 00- 11;00
Prevensi Primer
Mengidentifikasi proses berduka yang dialami
Memfasilitasi mengekspresikan perasaan dengan cara yang nyaman
Menganjurkan mengespresikan perasaan dengan benar
Menganjarkan proses berduka secara bertahap
Prevensi sekunder
identifikasi kelompok memiliki masalah yang sama
bentuk kelompok dengan pengalaman dan masalah yang sama.
Anjurkan kelompok untuk menuntaskan ketidak puasan , keluhan, kirtik dalam kelompok dengan cara santun
Prevensi tertier
tetapkan tujuan dan lama hubungan konseling
berikan penguatan dalam keterampilan baru
anjurkan untuk menunda mengambil keputusan saat strees
1 orang kader
S :dari data yan didapatkan dari ketua RT 01, masyarakat saling mendukung satu sama lain
O :
Dari hasil Observasi masyarakat mulai membiasakan diri dengan kejadian bencana
1. Kemampuan mahasiswa yang baik dalam menjalankan asuhan keperawatan
2. Respon masyarakat yang baik dalam bekerja sama menerapkan asuhan keperawatan
3. Pemerintah yang mendukung program asuhan keperawatan
penyesuaian budaya perawat dengan budaya lokasi pengkajian
pendataan masyarakat yang tidak akurat akibat masyarakat sebagian memilih untuk menungsi ke kota lain.
No
DX
Tanggal dan Jam
Implementasi
Respon Komunitas
Evaluasi Formatif
Faktor Pendukung
Faktor penghambat
Nama
TTD
1
D.0080
10 juli 2020
Jam 08 ; 00- 11;00
Prevensi Primer
Mengidentifikasi ketidakmampuan berkonsetrasi
Memberikan informasi tertulis tentang prosedur dan kesiapan prosedur teknok relaksasi
Menganjurkan mengambil posisi nyaman
Prevensi sekunder
Mngidentifikasi kemampuan mengambil keputusan
Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
Menganjurkan keluarga untuk tetap bersama klien
Melatih teknik relaksasi
Prevensi tertier
Mengidentifikasi kemampuan dan beri penguatan
Menetapkan tujuan dan lama konseling
Menganjurkan mengekspresi perasaan
1 orang kader
S :dari data yan didapatkan dari ketua RT 01, masyarakat saling mendukung satu sama lain
O :
Dari hasil Observasi masyarakat mulai membiasakan diri dengan kejadian bencana
1. Kemampuan mahasiswa yang baik dalam menjalankan asuhan keperawatan
2. Respon masyarakat yang baik dalam bekerja sama menerapkan asuhan keperawatan
3. Pemerintah yang mendukung program asuhan keperawatan
penyesuaian budaya perawat dengan budaya lokasi pengkajian
pendataan masyarakat yang tidak akurat akibat masyarakat sebagian memilih untuk menungsi ke kota lain.
Tabel 5. implementasi
Evaluasi keperawatan
Relevansi: intervensi ini mendukung program pemerintah mengenai bencana yang tertuang dalam peraturan PeraturanMenteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan Keluarga
Efisiensi: kegiatan ini dapat dilakasanakan bersamaan dengan bakti sosial yang sering dilaksanakan pada jumat bersih.
Efektifitas: tujuan dari intervensi yang diberikan tercapai yaitu: Verbalisasi menerima kehilangan, kemampuan meminta dukungan pada orang lain serta keterlibatan dalam aktivitas perawatan.
Hasil: masyarakat mulai menerima keadaan setelah bencana banjir
Dampak: masyarakat dapat menerima keadaan yang terjadi serta tidak berputus asa untuk menata kembali aktifitas yang sering dilakukan sebelum bencana banjir terjadi, masyarakat juga mampu mengembangkan kemampuan dalam menghadapi bencana alam yang terjadi.
Keberlanjutan: program ini akan dilanjukkan oleh pemerintah utamanya pada karang taruna dan kader-kader dipuskesmas.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Krisis pada dasarnya adalah sebuah situasi yang tidak terduga, artinya organisasi umumnya tidak dapat menduga bahwa akan muncul krisis yang dapat mengancam keberada-anya. Sebagai ancaman ia harus ditangani secara cepat agar organisasi dapat berjalan normal kembali setelah itu. Sedangkan membicarakan aspek penanggulangan bencana dari perspektif ilmu sosial akan lebih mengarah pada pola behavioralisme seseorang dalam mempersepsikan suatu bencana.
Cara pandang ini setidaknya menjadi penting untuk melihat dampak bencana terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan. Penekanan terhadap aspek sosial terhadap skema penanggulangan bencana sendiri dikarenakan adanya perubahan paradigma ilmu bencana. Bencana kini bukan lagi dianggap sebagai fenomena yang sporadis, namun sebisa mungkin bencana tersebut dikelola dan direduksi. Oleh karena itulah, bencana bukan lagi dianggap sebagai hazard yang menempatkan bencana sebagai sesuatu yang absurd untuk dikelola. Akan tetapi, bagaimana kemudian kita menempatkan unsur keselamatan (safety) dalam bencana tersebut
Saran
BagiRT dan desa
Diharapkan pihak RT dan lurah mampu mendukung segala tindakan asuhan keperawatan yang telah di sarankan oleh mahasiswa Stikes Karya Kesehatan Kendari dan lebih member perhatian terkait bidang kesehatan masyarakat di RT 01 kelurahan meluhu
Bagi puskesmas
Diharapkan pihak puskesmas dapat menjadikan bahan tambahan dan pertimbangan dalam pembuatan program perencanaan kesehatan khususnya di komunitas masyarakat dikelurahan meluhu
Bagimahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat menjadi tambahan informasi dan skill dalam melaksanakan asuhan keperawatan komunitas yang dapat menambah dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan mahasiswa mengenai keperawatan komunitas serta dapat mengaplikasikannya di masyarakat.
Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat mengetahui informasi kesehatan serta mendapat program kesehatan menyeluruh dari pihak pemberi pelayanan kesehatan khususnya di komunitas dan juga dapat menerapkan kekehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan di masyarakat, serta adanya perubahan perilaku hidup sehat.
Bagi institusi pendidikan
Diharapkan institusi dapat di jadikan sumber informasi khususnya bagi insitusi pendidikan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Pramono MF, Lahuri S Bin, Ghozali M. Penerapan Manajemen Krisis dalam Pengelolaan Bencana Longsor Banaran, Pulung, Ponorogo. Khadimul Ummah. 2017;1(1).
2. Musiana. Studi kualitatif ancaman, kerentanan dan kemampuan mitigasi bencana masyarakat di pesisir bandar lampung *. J Keperawatan [Internet]. 2015;XI(2):262–9. Available from: http://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JKEP/article/view/581
3. Safitri N. Crisis and Disaster Counseling : Peran Konselor terhadap Korban yang selamat dari bencana alam. 2018;(2):66–76.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar