ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGUAN PADA SISTEM RESPIRASI PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)
Oleh;
Kelompok II
1.DILA PUSPITA
2.ASTUTI DJAFAR
3.ANANG SASTIANA
4.JEIREN KRISTIANA
5.NINING
6.WAODE SANTI ASRIANTI
7.SITI MARIANA
8.RISKI ASWILAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KARYA KESEHATAN KENDARI
PRODI S1 KEPERAWATAN
KENDARI
2020
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK”. Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ini.
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
B. Tujuan
C. Manfaat
BAB II
TINJAUN TEORI
A. Defenisi
B. Etiologi
C. Anatomi fisiologi sistem paru
D. Patofisiologi
E. Pathway
F. Manifestasi klinis
G. Komplikasi
H. Pemeriksaan penunjang
I. Penatalaksanaan
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
B. Diagnosa
C. Kriteria Hasil
D. Intervensi
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Kasus
B. Analisa Data
C. Diagnosa
D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
E. Implementasi dan Evaluasi
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Salah satu penyakit kronis yang terkait nutrisi pada lansia adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Menurut WHO, PPOK didefinisikan sebagai suatu penyakit paru yang ditandai dengan adanya hambatan yang persisten aliran udara nafas dari paru di saluran pernafasan. PPOK merupakan suatu penyakit yang sering tidak terdiagnosa dan mengancam jiwa, yang mempengaruhi pernafasan normal dan tidak sepenuhnya reversibel. Gambaran yang lebih dikenal sebelumnya berupa bronkhitis kronis dan emfisema sudah tidak lagi digunakan, kini keduanya termasuk dalam diagnosis PPOK(Fasitasari, 2013)
Nutrisi merupakan elemen kesehatan penting bagi populasi lanjut usia (lansia) dan mempengaruhi proses menua. Prevalensi malnutrisi meningkat pada populasi ini dan berhubungan dengan penurunan: status fungsional, gangguan fungsi otot, penurunan massa tulang, disfungsi imun, anemia, penurunan fungsi kognitif, penyembuhan luka yang buruk, pemulihan pembedahan yang lambat, angka readmisi rumah sakit yang lebih tinggi, dan mortalitas. Para lansia sering mengalami penurunan nafsu makan dan pengeluaran energi (energy expenditure), yang, bersamaan dengan penurunan fungsi biologis dan fisiologis, seperti penurunan massa bebas-lemak tubuh (lean body mass), perubahan kadar sitokin dan hormonal, dan perubahan dalam pengaturan elektrolit cairan, pengosongan lambung yang tertunda, danmenurunnya sensitifitas pembauan dan pengecapan. Selain itu, perubahan patologis dari menua, seperti penyakit kronis dan gangguan psikologis, berperan dalam etiologi kompleks dari malnutrisi pada lansia(Fasitasari, 2013)
PPOK diderita oleh 10% populasi, dan prevalensinya mencapai 50% pada perokok berat (Hanania et al., 2010). PPOK merupakan penyebab kematian keempat yang mengenai lebih dari 10 juta orang di USA. PPOK diperkirakan akan naik dari urutan keenam menjadi urutan ketiga dari penyebab kematian terbanyak di dunia pada tahun 2020 (Reilly Jr. & Silverman, 2012). Prevalensi PPOK pada lansia ≥65 tahun diperkirakan 14,2% (11-18%) dibandingkan dengan 9,9% (8,2-11,8%) pada usia ≥40 tahun. Prevalensi PPOK naik dua kali lipat setiap kenaikan usia 10 tahun (Hanania et al., 2010). Di Indonesia, country rate untuk PPOK sebesar 2,6, sedangkan country rate tertinggi di dunia 4,6 (WHO, 2009). Penyakit paru (termasuk PPOK) merupakan penyebab kematian nomer 5 di Indonesia, dengan age-standardized death rate sebesar 53,01 per 100.000 penduduk, menempati urutan ke-14 di antara negara-negara di dunia(Fasitasari, 2013)
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Meskipun biasanya terjadi pada perokok, PPOK bisa juga terjadi pada orang yang tidak merokok akibat pajanan polusi udara. Penyakit paru obstruktif kronik menjadi masalah kesehatan di berbagai negara di mana masyarakatnya mempunyai kebiasaan merokok. Diperkirakan prevalens PPOK akan semakin meningkat di waktu mendatang(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Tujuan
1.Mahasiswa mengetahui proses terjadinya penyakit PPOK
2. Mahasiswa mengetahui cara mencegah penyakit PPOK
3. Mahasiswa mampu merumuskan asuhan keperawatan pada penyakit PPOK
Manfaat
Bagi mahasiswa, makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan reeverensi untuk materi kasus PPOK
Bagi masyarakat,makalah ini dapat memberikan edukasi tentang penyebab serta pencegahan PPOK
Bagi ilmu pengetahuan keperawatan, makalah ini dapat dijadikan sebagai update reverensi mengenai kasus PPOK
BAB II
TINJAUN TEORI
Defenisi
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Meskipun biasanya terjadi pada perokok, PPOK bisa juga terjadi pada orang yang tidak merokok akibat pajanan polusi udara. Penyakit paru obstruktif kronik menjadi masalah kesehatan di berbagai negara di mana masyarakatnya mempunyai kebiasaan merokok. Diperkirakan prevalens PPOK akan semakin meningkat di waktu mendatang(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Sesak napas merupakan masalah utama padaPPOK dan sebagai alasan penderita mencari peng- obatan. Sesak napas bersifat persisten serta progresif dan juga sebagai penyebab ketidakmampuan penderita untuk melakukan aktivitas. Gejala sesak napas harus dievaluasi secara rutin pada setiap penderita PPOK. Sesak napas biasanya dinilai dengan menghitung fungsi paru dengan cara spirometri, namun untuk menilai sesak napas pada penderita PPOK dapat juga digunakan kuesioner Modified Medical Research Council scale (MMRC scale). Penelitian di Libanon menyatakan bahwa derajat sesak napas penderita PPOK menurut kuesioner MMRC scale secara bermakna berhubungan dengan nilai volume ekspirasi paksa detik pertama(Fasitasari, 2013)
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronik yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, progresif dan berhubungan dengan respons inflamasi yang abnormal terhadap partikel dan gas berbahaya. Pada PPOK ini terjadi obstruksi dan hambatan aliran udara kronik yang disebabkan oleh bronkitis kronik, emfisema atau keduanya. Pada kenyataanya kedua keadaan ini baik bronkitis kronik dan emfisema biasanya terjadi secara bersamaan sebagai konsekuensi dari penyebab yang paling sering yaitu asap rokok.1,2 Gejala klinis PPOK antara lain batuk, produksi sputum, sesak napas dan aktiviti terbatas. Menurut WHO, PPOK merupakan penyebab kematian ke-4 dan akan menjadi masalah global untuk masa yang akan datang. Meningkatnya usia harapan hidup manusia dan dapat diatasinya penyakit degeneratif lainnya maka PPOK akan menjadi gangguan kualiti hidup di usia lanjut. Bidang industri yang tidak dapat dipisahkan dengan polusi udara dan lingkungan serta kebiasaan merokok merupakan penyebab utama.2 Bronkitis kronik dan emfisema sejauh ini merupakan penyebab obstruksi aliran udara kronik, sedangkan penyebab lain bronkiektasis dan bronkiolitis. Jumlah pasien PPOK di Amerika Serikat diperkirakan 10 juta orang dan diperkirakan 24 juta orang lainnya mempunyai gangguan fungsi paru yang dicurigai PPOK. Pada tahun 2000 PPOK tercatat sebagai penyebab kematian 119.054 orang dan secara statistik meningkat 128% dibanding tahun 1980.1(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Etiologi
Faktor risiko utama terjadinya PPOK adalah merokok (WHO, 2013; Reilly Jr. & Silverman, 2012; Mueller, 2004; GOLD, 2006; Bergman & Hawk., 2010), bahkan ketika merokok sudah dihentikan, stress inflamasi masih terus merusak jaringan paru (Mueller, 2004).
Faktor genetik yang diketahui sebagai faktor risiko adalah defisiensi berat dari a-1 antitripsin (Reilly Jr. & Silverman, 2012; GOLD, 2006). Malnutrisi juga merupakan salah satu faktor risiko PPOK. Faktor risiko lainnya meliputi pemaparan terhadap debu atau zat kimia, polusi udara (termasuk memasak dengan kayu bakar dan/atau di tempat tanpa ventilasi udara yang baik), gangguan pertumbuhan dan perkembangan paru, stress oksidatif, infeksi virus atau bakteri, sosial ekonomi yang rendah, serta asma.(Fasitasari, 2013)
Penurunan fungsi paru akan menyebabkan penurunan status kesehatan dan kualitas hidup penderita PPOK. Pasien PPOK akan mengalami kesulitan untuk melaksanakan kegiatan hariannya, tidak mampu untuk melakukan apa yang dikehendaki, bahkan dapat menjadi seorang yang invalid, yang hanya berbaring saja tak berdaya di tempat tidur. Status kesehatan penderita PPOK dapat diukur dengan berbagai kuesioner seperti St. George Respiratory Questionnaire (SGRQ), Medical Research Councils (MRC) ataupun COPD Assessment Test (CAT). Kuesioner biasanya digunakan untuk mengetahui lebih jauh lagi gejala yang masih dirasakan oleh pasien yang kadang tidak terungkap saat wawancara. Pemeriksaan kuesioner juga mampu membina hubungan yang lebih 7baik antara praktisi kesehatan dan pasien(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Anatomi fisiologi sistem paru
Anatomi fisiologis sistem paru area permukaan alveolar kurang lebih 40 m2 untuk pertukuran udara.tiap paru memiliki: apeks yang mencampai ujung sternal kosta pertama,permukan costovertebral yang melapis dinding dada, basis yang terletak diatas diagfragma dan permukaan medistinal yang menempel dan membentuk struktur mediastinal disebelahnya.
Setiap paru diselubungi oleh kantung pleura berdinding ganda yang membranya melapisi bagian dalam thoraksdan menyelubangi permukaan luar paru.setiap pleura mengandung beberapa lapis jaringan ikat elastis dan mengandung banyak kapiler diantara lapisan pleura tersebut terdapat cairan yang bervolume sekitar 25-30 ml yang disebut cairan pleura cairan pleura tersebut berfungsi sebagai pelumasuntuk gerakan paru didalam rongga
Patofisiologi
Fungsi maksimum sistem pernafasan tercapaipada usia 20-25 tahun, setelah itu penuaan berhubungan dengan penurunan progresif pada kemampuan paru. Meskipun demikian, jika tidak terkena penyakit, sistem pernafasan tetap mampu untuk mempertahankan pertukaran gas yang cukup sepanjang hidup. Perubahan fisiologis terkait dengan penuaan mempunyai konsekuensi penting terhadap reservasi fungsional pada lansia, dan kemampuannya untuk bertahan terhadap penurunan kemampuan mengembang (compliance) paru dan peningkatan tahanan di jalan nafas terkait dengan infeksi saluran pernafasan bawah. Perubahan fisiologis pada lansia yang paling penting adalah: penurunan elastisitas paru, compliance dinding dada, dan penurunan kekuatan otot-otot pernafasan. Perubahan pada parenkim paru (pembesaran alveloli, atau ‘senile-emphysema’, penurunan diameter saluran nafas kecil) dan penurunan terkait elastisitas paru, menyebabkan kenaikan pada functional residual capacity (FRC): sehingga pasien lansia bernafas pada volume paru yang lebih tinggi dan meningkatkan beban otot- otot pernafasan(Fasitasari, 2013)
Pathway
Manifestasi klinis
Pasien PPOK sering mengeluh mudah lelah jikamakan atau mengalami sesak nafas selama makan dan minum. Lelah yang terjadi karena sesak juga mempengaruhi makan. Mengunyah dan menelan dapat terganggu karena kedua aktivitas tersebut
mengubah pola nafas dan menurunkan ambilan oksigen (oxygen uptake). Pernafasan mulut kronik atau beberapa obat tertentu juga dapat mengubah persepsi pengecapan dan/atau mulut kering. Pasien PPOK sering mengalami hiperventilasi paru disertai diafragma mendatar dan penurunan volume abdomen, yang menyebabkan rasa penuh dan kembung ketika makan. Jika makan terlalu banyak, gaster meningkatkan tekanan positif diafragma sehingga nafas menjadi sulit. Aerofagia sering terjadi pada PPOK dan mungkin juga menyebabkan kembung. Faktor lain yang dapat berperan pada buruknya nutrisi adalah depresi dan kesulitan belanja atau menyiapkan makanan(Fasitasari, 2013)
Komplikasi
Komplikasi yang dapat tejadi pada PPOK adalah:
Gagal nafas
Gagal nafas kronis Dapat diatasi dengan menjaga keseimbangan PO2 dan PCO2, bronkodilator adekuat, terapi oksigen yang adekuat terutama waktu aktivitas atau waktu tidur, antioksidan, latihan pernapasan dengan pursed lips breathing.
Gagal nafas akut pada gagal nafas kronis, ditandai oleh sesak nafas dengan atau tanpa sianosis, sputum bertambah dan purulen, demam, kesadaran menurun.
Infeksi berulang Pada pasien PPOK produksi sputum yang berlebihan menyebabkan terbentuk koloni kuman, hal ini memudahkan terjadinya infeksi berulang. Pada kondis kronis ini imunitas menjadi lebih rendah, ditandai dengan menurunnya kadar limfosit darah.
Kor pulmonal Ditandai oleh P pulmonal pada EKG, hematokrit > 50%, dapat disertai gagal jantung kanan.(Lindayani and Tedjamartono, 2017)
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan spirometri perlu dilakukan pada setiap penderita PPOK untuk memastikan diagnosis, menentukan derajat penyakit dan memantau progre- sivitasnya. Spirometri penting untuk mengevaluasi perjalanan penyakit tetapi di beberapa tempat peralatan spirometri tidak tersedia sehingga dibutuhkan cara lain seperti melihat keluhan sesak napas, untuk menilai progresivitas dan perjalanan penyakit PPOK(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Hasil pemeriksaan fungsi paru yang dilakukan pada semua peserta penelitian mendapatkan nilai VEP 1 tertinggi sebesar 2,034 liter dan nilai VEP terendah 1 0,462 liter dengan nilai rata-rata 1,030 ± 0,407 liter. Nilai VEP prediksi tertinggi sebesar 78% dan nilai VEP prediksi terendah sebesar 22% dengan VEP rata-rata 1 43,1 ± 16,1% prediksi. Nilai KVP tertinggi sebesar 4,894 liter dan nilai KVP terendah sebesar 0,969 liter dengan KVP rata-rata 2,163 ± 0,720 liter. Nilai KVP prediksi tertinggi sebesar 99% dan nilai KVP prediksi terendah sebesar 28% dengan KVP rata-rata 65,0 ± 17,7% prediksi. Nilai rasio VEP /KVP tertinggi sebesar 69% dan nilai rasio VEP 1/KVP terendah sebesar 27% dengan rasio VEP1/KVP rata-rata 48,1 ± 10,4%.Ditinjau(Dodi Anwar, Yusrizal Chan, 2013)
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien sebaiknya berdasarkan panduan dan disesuaikan dengan gejala dan tingkat gangguan kemampuan. Salah satu strategi penatalaksanaan PPOK adalah dengan rehabilitasi paru. Terdapat bukti dari randomised controlled trials (RCTs) terhadap manfaat rehabilitasi paru yang menunjukkan perbaikan sesak napas, kapasiti latihan dan kualiti hidu
National Institute for Health and Clinical Excellence telah merekomendasikan bahwa rehabilitasi paru harus diberikan pada seluruh penderita PPOK yang mengalami gangguan fungsi paru.5 Rehabilitasi paru merupakan program penatalaksanaan pasien PPOK yang terpadu terdiri dari berbagai disiplin ilmu mencakup dokter, fisioterapis, perawat pernapasan, staf gizi, pekerja sosial dan konsultan rokok.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
Pengkajian
Identitas
Pada klien penderita PPOK diantaranya usia>40 tahun. Pasien PPOK biasnya bekerja sebagai karyawan pabrik rokok dan karyawan pabrik furniture.
Keluhan utama
Keluhan utama yang sering dirasaka pada pasien penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) biasanya adanya sesak nafas, batuk tak kunjung sembuh.
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan saat ini berupa uraian mengenai penyakit yang diderita oleh pasien dan mulai timbulnya keluhan yang dirasakan sampai klien dibawa ke Rumah Sakit Umum serta pengobatan apa yang pernah diberikan dan bagaimana perubahannyaserta data yang didapat saat pengkajian.
Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien sebelumnya pernah mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) atau penyakit menular yang lain.
Riwayat penyakit keluarga Perlu ditanyakan pada keluarga apakah salah satu anggota keluraga ada yang pernah mengalami sakit yang sama dengan pasien atau penyakit yang lain yang ada di dalam keluarga.
Pola fungi kesehatan Pengorganisasian data berdasarkan pola fungsi kesehatan menurut Gordon :
Persepsi terhadap kesehatan Adanya tindakan penatalaksanaan kesehatan di RS akan menimbulkan perubahan terhadap pemeliharaan kesehatan.
Pola aktivitas dan latihan Pola aktivitas perlu dikaji karena pada klien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) mengalami keletihan, dan kelemahan dalam melakukan aktivitas karena adanya dispnea yang dialami.
Pola istirahat dan tidur Gangguan yang terjadi pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) salah satunya adalah gangguan pertukaran gas, karena pasien terlalu sering menghirup udara yang tidah bersih sehingga mengakibatkan dyspnea.
Pola nutrisi-metabolik Adanya penurunan nafsu makan yang disertai adanya mual muntah pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) akan mempengaruhi asupan nutrisi pada tubuh yang berakibat adanya penurunan BB dan penurunan massa otot.
Pola eliminasi Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya perubahan ataupun gangguan pada kebiasaan BAB dan BAK
Pola hubungan dengan orang lain Akibat dari proses inflamasi tersebut secara langsung akan mempengaruhi hubungan baik intrapersonal maupun interpersonal.
Pola persepsi dan konsep diri Akan terjadi perubahan jika pasien tidak memahami cara yang efektif untuk mengatasi masalah kesehatannya dan konsep diri yang meliputi(Body Image, identitas diri, Peran diri, ideal diri, dan harga diri).
Pola reproduksi dan seksual Pada pola reproduksi dan seksual pada pasien yang sudah menikah akan mengalami perubahan.
Pola mekanisme koping Masalah timbul jika pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah kesehatannya, termasuk dalam memutuskan untuk menjalani pengobatan yang intensif.
Pola nilai dan kepercayaan Adanya kecemasan dalam sisi spiritual akan menyebabkan masalah yang baru yang ditimbulkan akibat dari ketakutan akan kematian dan akan mengganggu kebiasaan ibadahnya.
Pemeriksaan Fisik
B1 (Breathing):
Inspeksi: pada klien dengan PPOK, terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan, serta penggunaan otot beraktivitas bahkan pada aktivitas kehidupan sehari- hari seperti makan dan mandi.Pengkajian batuk produktif dengan sputum purulen disertai dengan demam mengindikasikan adanya tanda pertama infeksi pernafasan.
Palpasi: pada palpasi, ekspansi meningkat dan taktil fremitus biasanya menurun
Perkusi: pada perkusi, didapatkan suara abnormal sampai hipersonor sedangkan diafragma mendatar/menurun.
Auskultasi: sering didapatkan adanya bunyi nafas ronkhi dan wheezing sesuai tngkat keparahan obstruksi pada bronkhiolus
B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak ppok pada status kardiovaskuler meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan CRT
B3 (Brain)
Pada saat inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji.Disamping itu, perlu pemeriksaan GCS, untuk menentukn tingkat kesadaran pasien apakan kompos mentis, somnolen atau koma.
B4 (Bledder)
Pengukuran Output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor ada tidaknya oliguria, karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok
B5 (Bowel)
Perlu juga dikaji tentang bentuk, turgor, nyeri, dan tanda-tanda infeksi, mengingat hal-hal tersebut dapat merangsang serangan PPOK.Pengkajian tentang status nutrisi pasien meliputi jumlah, frekuensi dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.Pada pasien sesak nafas sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi.Hal ini karena terjadi dipsnea saat makan, laju metabolisme, serta kecemasan yang di alami pasien.
B6 (Bone)
Dikaji adanya edema ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat merangsang serangan PPOK.Pada integumen perlu dikaji adanya permukaan yang kaar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit, kelembapan, mengelupas atau bersisik, perdarahan, pruritus, eksim, dan adanya bekas atau tanda urtikaria atau dermatitis.Pada rambut, dikaji warna rambut, kelembapan, dan kusam.Perlu dikaji pula tentang bagaimana tidur dan istirahat pasien yang meliputi berapa lama pasien tidur dan istirahat, serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami pasien.Adanya wheezing, sesak, dan ortopnea dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahatpasien.Perlu dikaji tentang aktivitas keseharian pasien seperti olahraga, bekerja, dan aktivitas lainnya.Aktivitas juga dapat mejadi faktor pencetus PPOK
Diagnosa
pola napas tidak efektif kode D.0005
Intoleransi aktivitas kode D.0056
Kriteria Hasil
pola napas tidak efektif kode D.0005
Mendemonstrasikan latihan pernapasan dengan benar dan suara napas bersih,tidak ada sianosis dan dispnea
Intoleransi aktivitas kode D.0056
Klien dapat melakukan aktivitas ringan
Intervensi
pola napas tidak efektif kode D.0056
mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan napas
monitor pola napas (frekuensi,kedalaman,usaha napas)
pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma servikal)
ajarkan teknik batuk efektif
kolaborasi pemberiaan bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
Intoleransi aktivitas kode D.0056
Identifikas deficit tingkat aktivitas tertentu
Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas tertentu
Fasilitasi focus pada kemampuan,bukan deficit yang dialami
Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang pasien pria bernama Tn.T berusia 70 tahun dating dirumah sakit pada tanggal 20 mei 2020, jam 8.00 pasien mengatakan mengalami sesak napas sejak 3 hari yang lalu batuk berdahak, keluar dahak warna putih kekuningan sebanyak 2x,. Saat pengkajian pasien mengalami sesak napas, tampak terbaring.
IdentitasPasien
Nama Pasien: Tn T
Tempat Tgl Lahir : Yogja 10-mei-1950 (70 tahun)
Jenis Kelamin: Laki
Agama: Islam
Pendidikan: SD
Pekerjaan: Wiraswasta ( Tambal ban )
Status Perkawinan : Menikah
Suku / Bangsa : Jawa
Alamat: Saragan,mertoyudan,magelang
Diagnosa Medis : PPOK
No. RM: 170509
Tanggal Masuk RS : 02-07-2018
Penanggung Jawab / Keluarga
Nama : Ny E
Umur: 63 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Alamat: Saragan,mertoyudan,magelang
Hubungan dengan pasien : Istri
Status perkawinan: kawin
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum Kesadaran : Compos Mentis
Status Gizi :TB = 167 cm
BB = 75 Kg
IMT= BB : TB2 = 75 : 1,67 = 44,91
Tanda Vital :
TD= 130/100 mmHg
Nadi= 88 x/mnt
Suhu = 36 °C
RR= 25 x/mn
Pemeriksaan Secara Sistematik (Cephalo – Caudal)
Kulit
Turgor kulit elastis warna coklat,luka tidak ada
Kepala
Bentuk kepala bulat,rambut sebagian putih
Leher
Tidak teraba adanya pembesaran kalenjer getah bening Tengkuk : bentuk semetris ,dalam batas normal.
Dada
Inspeksi Bentuk dada normal : diameter anterior posterior-transversal=1:2
Auskultas Terdengan bunyi ronchi +
Perkusi : di temukan sonor tympani di sisi kiri Palpasi: tidak ada nyeri teka
Jantung
Inspeksi :bentuk dada normal semetris
Auskultasi :Bj 1 (S1): Penutup katup mitral dan triku Bj II(S2); Penutup katup aorta dan pulmonal=DUB S1-SII 1 detik SI lebih kera dari SII
Perkusi : di temukan sonor tympani di sisi kiri
Palpasi: letak ictus cordis nomal.tidak ada pembengkakan
Punggung
Tidak ada kelaianan
Abdomen
Inspeksi Acetes tidak ada
Auskultasi Terdengar bising usus + 18 x/mnt
Perkusi Tidak ada suara thimpani
Palpasi nyeri tekan ( - )
Panggul
Dalam batas normal
Anus dan Rectum
Tidak terkaji
Genetalia
Pada Wanita Tidak terkaji
Pada Pria Tidak terkaji
Ekstremitas
Atas Dalam batas normal 5/5 tangan kanan terpasang infus asering 12 tpm
Bawah Dalam batas normal 5/5
Analisa Data
Nama:Tn.T
Diagnosa:PPOK
Umur:70 thn
NO
Data
Etiologi
Problem
1.
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi sputum yang masi produktif
DS Tn T mengeluh batuk dahak susah keluar,sesak napas.
DO
-TD: 130/100
-SUHU ; 36
-NADI: 88X/MNT
-RR : 25X/MNT -Terpasang infus asering 12 Tpm
Factor prediposisi
Edema,spasme bronkus,peningkatan secret bronkiolus
Bersihan jalan napas tidak efektif
Bersihan jalan
napas tidak efektif
2
Gangguan rasa nyaman “nyeri” b.d penumpukan gas di lambung
DS
Tn T mengeluhkan perutnya sakit dan terasa kembung.
P : di perut
Q : terasa di remas
R : Nyeri terlokalisir S ; Skala 2 T: hilang timbul
DO
-Perut tampak kembung -klien tampak gelisah
Ganguan metabolism jariang
Penumpukan gas di lambung
Ganguan rasa nyaman
Gangguan rasa nyaman “nyeri”
Diagnosa
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi sputum yang masi produktif kode:D.0149
Gangguan rasa nyaman “nyeri” b.d penumpukan gas di lambung kode:D.0074
Itervensi
Nama Inisial Pasien : Tn.T Diagnosa Medis : PPOK
Umur : 70 thn
NO
DiagnosaKeperawatan
Tujuan&KriteriaHasil (NOC)
Intervensi (NIC)
kategori : respirasi
subkategori : fisiologis
Kode : D.0149
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi sputum yang masi produktif
Ditandai dengan:
DS: Tn T mengatakan batuk dahak susah keluar,sesak napas
DO: Tn.t mengeluh sesak napas
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X 24 jam :
NOC (L.01001) bersihan jalan napas(skala 1 :menurun, 2 :cukup menurun, 3 :sedang, 4 :cukup meningkat, 5 :meningkat),
dengan kriteria :
Cukup meningkat (skala 3 menjadi 4)
Intervensi Keperawatan
Bersihan jalan napas tidak efektif: latihan batuk efektif (1.01006)
AktivitasKeperawatan
Identifikasi kemampuan batuk
Atur posisi semi-fowler atau fowler
Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran,jika perlu
kategori : psikologis
subkategori : nyeri dan kenyamanan
Kode : D.0074
Gangguan rasa nyaman “nyeri” b.d penumpukan gas di lambung
DS: Tn T mengeluhkan perutnya sakit dan terasa kembung Perut tampak kembung -klien tampak gelisa
DO: Perut tampak kembung -klien tampak gelisah
Setelah dilakukan tindakan keperawat an selama 3X 24 jam/menit :
NOC status kenyamanan (L.08064) (skala 1 :menurun, 2:cukup menurun, 3 :sedang, 4 :cukup meningkat, 5 : meningkat), dengan kriteria :
Cukup menurunt (skala 1 menjadi 2)
IntervensiKeperawatan
Gangguan rasa nyaman “nyeri”:manajemen nyeri (1.08238)
AktivitasKeperawatan :
Identifikasi lokasi,karakteristik,durasi,frekuensi,kualitas,intensitas nyeri
Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri ( misalnya TENS,hypnosis,akupresur,terapi music,biofeedback,terapi pijat,aromaterapi,teknik imajinasi terbimbing,kompres hangat/dingin,terapi bermain)
Jelaskan penyebab,periode,dan pemicu nyeri
Kolaborasi pemberian analgetik,jika perlu
Implementasi dan Evaluasi
Diagnosa keperawatan
Implementasi
Evaluasi
Jam
Tanggal:17 juni 2020
Hari/tanggal:sabtu 20 juni 2020
Jam:06.30
kategori : respirasi
subkategori : fisiologis
Kode : D.0149
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d produksi sputum yang masi produktif
07.00
Melakukan terapi dada pada klien
Hasil: Tn.T mengatakan batuk sudah berkurang dan dahaknya sudah dapat keluar,dan sesak napas sudah berkurang.
Mengajarkan batuk efektif
Hasil: Tn.T mengatakan batuk sudah berkurang dahak nya sudah berkurang dan sesak mulai membaik
S: Tn T mengatakan tidak batuk dan sesak lagi
O: pasien tampak rileks.
TD:120/70 mmhg
SUHU :36,5 x/menit
NADI: 88x/mnt,
RR :20x/mnt
A:masalah teratasi
P:intevensi dihentikan pasien pulang
kategori : psikologis
subkategori : nyeri dan kenyamanan
Kode : D.0074
Gangguan rasa nyaman “nyeri” b.d penumpukan gas di lambung
mengajarkan keluarga klien ,memberi kompres hangat di daerah perut yang sakit.
Hasil: Tn T Mengatakan nyeri di daerah perut sudah berkurang.
mengajarkan tehnik napas dalam ,untuk mengurangi nyeri perut
hasil: Tn T Mengatakan nyeri di daerah perut sudah tidak dirasakan ,dan tidak merasa kembung lagi.
S: Tn T Mengatakan nyeri di daerah perut sudah tidak dirasakan ,dan tidak merasa kembung lagi.
O: Exspresi wajah rileks,tidak meringis
A:masalah teratasi
P:intervensi dihentikan pasien pulang
evalusi
S: Tn T mengatakan tidak batuk dan sesak lagi
O: pasien tampak rileks.
TD:120/70 mmhg
SUHU :36,5 x/menit
NADI: 88x/mnt,
RR :20x/mnt
S: Tn T Mengatakan nyeri di daerah perut sudah tidak dirasakan ,dan tidak merasa kembung lagi.
O: Exspresi wajah rileks,tidak meringis
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik(PPOK) atau Chronic Obstruktif Pulmonary Disease (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah asma bronkial, bronkitis kronis, dan emfisema paru paru. Sering juga penyakit ini disebut dengan Chronic Airflow Limitation (CAL) dan Chronic Obstructive Lung Disease (COLD). Diagnosa yang utama pada penderita PPOK yaitu Bersihan jalan napas tidak efektif b.d peningkatan produksi sputum
.
Saran
Bagi mahasiswa,intervensi yang dapat dilakukan diatas dapat diterapkan untuk kasus PPOK.namun,tetap harus disesuaikan dengan kasus yang ada sehingga dibutuhkan pengembangan materi selanjutnya
makalah ini dapat dijadikan reverensi untuk menambah pengetahuan masyarakat khususnya pada lansia tentang PPOK
perawat diharapkan mampu membuat asuhan keperawatandengan baik terhadap penderita penyakit saluran pernapasan terutama PPOK
DAFTAR PUSTAKA
Dodi Anwar, Yusrizal Chan, M. B. (2013) ‘Hubungan Derajat Sesak Napas Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Menurut Kuesioner Modified Medical Research Council Scale dengan Derajat Penyakit Paru Obstruktif Kronik Dodi’, Sains Medika, 5(1), pp. 50–61. Available at: http://jurnalrespirologi.org/wp-content/uploads/2013/01/jri-32-4-200-7.pdf%0Ahttp://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15350854.
Fasitasari, M. (2013) ‘Terapi Gizi pada Lanjut Usia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Nutrition Therapy in Elderly with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)’, Sains Medika, 5(1), pp. 50–61. Available at: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=154984&val=4928&title=Terapi Gizi pada Lanjut Usia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Nutrition Therapy in Elderly with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
Lindayani, L. P. and Tedjamartono, T. D. (2017) ‘PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS’, (1302006137).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar